Teknologi Bertanam Sorgum

By Anas

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (Sorghum Development Group (SDG)

e-mail: anasyayak@yahoo.com

I. Teknologi Penyiapan Benih Sorgum

1.1. Produksi dan sertifikasi benih

Tanaman sorgum adalah tanaman menyerbuk sendiri sehingga benih untuk pertanaman musim berikutnya dapat disiapkan sendiri oleh petani.

Benih adalah bahan tanaman (organ generatif) berupa biji hasil pembuahan putik oleh tepung sari yang telah masak penuh (matang fisiologis) dan ditujukan untuk perbanyakan tanaman. Jika tidak ditujukan untuk perbanyakan tanaman disebut biji. Untuk menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan baik haruslah menggunakan benih kultivar unggul dan benih bermutu.

Benih kultivar unggul adalah benih yang berasal dari tanaman yang secara genetik mempunyai sifat-sifat unggul, sedangkan benih bermutu adalah biji bahan tanam yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu:

  • Daya Berkecambah (DB) Minimal 80 %.
  • Kadar Air (KA) Maksimal 12-14 %.
  • Kemurnian Benih (KB) Minimal 98 %.
  • Tidak terkontaminasi hama/penyakit, tidak cacat, tidak keriput, bernas, mengkilat, dan tidak tercampur dengan kotoran (kotoran < 1 %).

Dalam penyiapan benih sorgum setidaknya harus memperhatikan standar operasional baku dalam produksi sampai penanganan pasca panen, sehingga diperoleh benih unggul yang mempunyai keempat sifat tersebut di atas. Selanjutnya benih dapat diajukan untuk disertifikasi oleh lembaga berwenang/ kompeten yang sebelumnya telah melakukan pengawasan pada waktu persiapan tanam, waktu tanam sampai pengujian mutu benih. Sertifikasi bertujuan memberikan jaminan mutu kepada konsumen benih baik secara genetik maupun secara fisik.

Setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam produksi benih bermutu sorgum, yaitu:

i)    Aspek kondisi benih/ tanaman yang meliputi kondisi tanaman pada: fase vegetative yang dimulai dari perkecambahan, pemunculan bibit dan tanaman muda (juvenile) dan fase reproduktif yang dimulai dari pembungaan, pembuahan, pembentukan biji, dan pemasakan/pematangan biji. Terganggunya pertumbuhan awal tanaman akan mempengaruhi hasil dan kualitas biji yang akan dihasilkannya.

ii)    Aspek lingkungan tempat produksi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aspek lingkungan ini adalah:

  • Tanah atau media tumbuh yang meliputi pengetahuan akan: kesuburan fisik, kesuburan kimia (kandungan hara dan pH) serta kesuburan biologis. Meskipun sorgum tanaman yang tahan kekeringan, tetapi pada tanah dengan pH rendah (masam) terutama yang disebabkan oleh Al akan sangat mempengaruhi pertumbuhannya dan akan mengurangi hasil biji.
  • Iklim atau cuaca tempat produksi yang meliputi arah dan kecepatan angin, suhu dan kelembaban udara, curah hujan serta cahaya matahari (intensitas, periodisitas dan kualitas). Arah dan kecepatan angin harus mendapat perhatian berhubung penyerbukan silang secara alami (natural cross pollination-NCP) pada tanaman sorgum cukup tinggi dan bervariasi antara 6% – 30% pada jenis-jenis tertentu. Curah hujan yang terlalu tinggi terutama pada saat tanaman sorgum telah berbiji dengan intensitas cahaya yang kurang, akan menyebabkan penyakit smuts dan menurunkan kualitas biji sorgum.
  • Biologis yang meliputi hama dan penyakit yang ada, gulma dan organisme bermanfaat lainnya.

iii)   Aspek teknik budidaya tanaman. Dalam aspek teknik budidaya tanaman harus tetap menjaga:

  • Prinsip pengetahuan genetik tanaman berupa harus tetap menjaga kemurnian benih yang dihasilkan dengan cara memperhatikan sejarah lahan, penggunaan kelas benih sumber, isolasi jarak atau waktu tanam, rouging tanaman off type dan pencegahan kontaminasi mekanis.

Untuk memproduksi benih sorgum yang bermutu sebaiknya menggunakan benih sumber satu tingkat di atasnya.  Adapun urutan benih sumber (a) Benih Penjenis (Breeder Seed) – Label Putih, (b) Benih Dasar (Fondation Seed) – Label Putih, (c) Benih Pokok (Stock Seed) – Label Ungu, (d) Benih Sebar (Extention Seed) – Label Biru.

Isolasi jarak untuk menjaga kemurnian benih tanaman sorgum minimal 200m – 400m karena tingginya NCP pada tanaman sorgum atau minimal berbeda waktu tanaman kurang lebih 1 bulan.

  • Prinsip pengetahuan agronomi berupa pemilihan dan penyiapan lahan, penanaman benih, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

Terdapat dua kegiatan dalam manajemen produksi benih sorgum bermutu yaitu:

a)    Off Farm Management yang merupakan kegiatan pengelolaan produksi benih yang dilakukan di luar aktivitas lapangan produksi, meliputi:

  • Persiapan lapangan produksi yang terisolasi dari tanaman sejenisnya,
  • Pengetahuan akan sejarah lahan,
  • Persiapan sumber kelas benih termasuk penentuan jenis benih tanaman atau kultivar yang akan di tanam,
  • Pengetahuan akan iklim setempat (agroklimat),
  • Pengawasan saat pengolahan dan mutu benih (pengujian dan pemberian label).

b)    On Farm Management yang merupakan aktivitas produksi benih di lapangan, meliputi:

  • Penerapan teknologi budidaya tanaman sorgum yang tepat dan benar,
  • Inspeksi lapangan berupa roguing (membuang tanaman off type),
  • Penen, pasca panen dan sertifikasi.

1.2. Pengolahan Benih

Aktivitas pengolahan benih sorgum dimulai dari panen sampai benih siap untuk digunakan atau untuk disimpan dalam waktu yang agak lama. Pengolahan benih diperlukan untuk tetap menjaga kemurnian benih sorgum dari campuran material atau biji dari tanaman lainnya. Selain itu untuk menjaga agar kadar air benih dalam batas aman untuk disimpan sehingga memperlambat laju deteriorasi (kemunduran) benih.

Adapun secara umum tahap-tahap dalam pengolahan benih adalah:

a)    Perontokan biji dari malai. Perontokan dapat menggunakan trasher atau dengan cara di letakkan dalam karung plastik dan dipukul-pukul. Tahap ini sangat berisiko akan terjadinya  kontaminasi dari biji sorgum jenis lain atau material lainnya jika alat perontok atau tempat untuk merontokkan biji sorgum kurang bersih. Hal yang perlu diperhatikan adalah untuk selalu membersihkan dengan baik alat perontok setiap kali selesai merontokkan suatu kultivar biji sorgum tertentu.

b)    Pengeringan dan pembersihan. Pengeringan dilakukan dengan menjemur biji sorgum di bawah sinar matahari dan dibersihkan dengan cara ditampih untuk memisahkan sekam dan kotoran lainnya. Hal yang perlu diperhatikan kontaminasi dari bahan material lainnya seperti kerikil dan lainnya selama penjemuran.

c)    Sortasi dan grading. Tahap ini untuk menjamin kualitas benih sorgum yang seragam baik dari segi fisik dan dari segi genetik benih. Untuk itu diperlukan beberapa pengujian benih seperti uji rutin benih dan uji khusus benih. Pengujian benih dimaksudkan untuk mengetahui kualitas benih yang mencakup kemurnian fisik, kapasitas berkecambah, dan kadar air benih. Informasi hasil pengujian dapat dijadikan acuan untuk menentukan kebutuhan benih, dan pertimbangan apakah perlu penyimpanan atau tidak.

Uji rutin benih:

-   Uji kemurnian benih: diambil sampel secara acak dan dihitung persentase kontaminan yang ada dalam benih. Uji kemurnian meliputi: a) uji kemurnian fisik benih yang dapat terdiri dari benih murni (pure seed), benih varietas lain (other crop seed), biji gulma (weed seed) dan kotoran (inert matter); b) uji kemurnian genetik yang kurang dianjurkan dalam uji kemurnian benih.

-   Uji daya kecambah benih yang merupakan uji viabilitas langsung dengan mengukur kemampuan benih berkecambah dan menghasilkan kecambah normal dalam kondisi lingkungan yang optimum dan dihitung dengan rumus:

{ Jumlah kecambah normal / jumlah biji yang diuji } x 100%

-   Uji kadar air benih dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kadar air benih. Kadar air benih harus sekitar 12% – 14% untuk menjaga tidak cepatnya deteriorasi benih dan memperpanjang daya simpan benih.

Uji khusus:

Uji vigor benih yang dapat menggunakan uji kecepatan berkecambah (indeks vigor) dan uji kesehatan benih

d)   Perlakuan benih untuk melindungi dan mencegah benih dari serangan pathogen. Pengepakan dan pelabelan (jika diperlukan) serta penyimpanan benih. Tujuan dari pengepakan dan penyimpanan benih adalah untuk menjaga kualitas benih tidak cepat berkurang.  Untuk benih sorgum cara penyimpanan tertutup adalah cara yang paling baik, terlebih jika diikuti dengan pengaturan suhu dan kelembaban karena benih sorgum cepat sekali kehilangan viabilitasnya jika penyimpanannya kurang baik.

II. Teknologi Produksi

2.1. Pemilihan jenis dan kultivar sorgum yang sesuai

Diperlukan adanya penyesuaian kondisi lingkungan dengan jenis/ varietas sorgum yang akan dibudidayakan. Warna biji sorgum ada yang putih, krem, coklat, kuning dan keabu-abuan. Warna biji coklat biasanya rasanya sepat dan kurang enak untuk dikonsumsi. Umumnya hama burung tidak menyukai sorgum dengan warna biji coklat. Ada dua hal yang harus  diperhatikan sebelum menanam sorgum:

1)    Untuk memaksimalkan hasil sorgum, sebaiknya diketahui terlebih dahulu jenis sorgum yang akan ditanam. Untuk tujuan konsumsi manusia (pangan) faktor rasa, warna, ukuran biji dan hasil tinggi harus menjadi tujuan utama dan kultivar unggul sorgum biji putih (white sorghum) sangat sesuai untuk tujuan tersebut. Beberapa kultivar unggul sorgum biji tersaji di Tabel 1 dan 2. Sebaliknya untuk hasil maksimal sebagai pakan ternak atau produksi ethanol, sorgum manis (sweet sorghum) lebih menguntungkan untuk ditanam.

2)    Waktu tanam. Hasil sorgum (biji, bagas atau kandungan gula) dapat dimaksimalkan dengan memperhatikan waktu tanam. Pada daerah kering dimana ketersediaan air sangat terbatas dapat menggunakan varietas-varietas berumur genjah (Tabel 1) terutama untuk pertanaman pada musim kering 2 (MK 2).

Penggolongan tanaman sorghum yang umum digunakan dan di tanam di Indonesia adalah:

  • Sorgum biji (grain sorghum).

Karakteristik utama: batang kering sampai agak basah tetapi tidak manis, batang lebih pendek (75 cm – 150 cm), biji lebih banyak dan kompak, warna biji ada yang coklat sampai putih (white sorghum).

Pemanfaatannya: paling cocok untuk pangan, digunakan sebagai bahan makanan seperti tape, tenteng dan popsorgum, ditepung untuk bahan dasar kue, sebagai media yang baik untuk pertumbuhan jamur dan sebagai pakan ternak.

  • Sorgum manis/ sorgo/ cane (sweet sorghum) (Race bicolor).

Karakteristik: batang mengandung cairan/ getah manis,tinggi berkisar dari 1.5 – 3 m, tipe malai terbuka sampai agak kompak, biji sering rasanya pahit, tidak cocok untuk dikonsumsi.

Pemanfaatannya: cocok untuk digunakan sebagai pakan ternak (dibuat silase) dan bahan baku industri etanol (dari cairan sirupnya dan bagasnya).

  • Broomcorn (dikenal di Indonesia sebagai hermada).

Karakteristik: tanaman tinggi (1 – 4 m), batang kering dan berkayu, malai bercabang dan berserat dapat mencapai panjang 30 – 90 cm, biji kecil dan sedikit, sekam berduri, hijauannya/ daun sedikit.

Pemanfaatannya: tidak cocok untuk pangan dan digunakan sebagai bahan baku untuk membuat sapu terutama untuk diekpor ke Jepang.

Selain pemilihan jenis sorgum yang tepat sesuai peruntukannya, juga perlu pemilihan kultivar yang tepat. Meskipun secara umum sorgum adalah tanaman yang tahan kekeringan dan dapat tumbuh baik pada tanah-tanah marginal, namun pada kondisi lingkungan yang optimal hasil panennya akan meningkat secara nyata.

Universitas Padjadjaran telah mengembangkan beberapa varietas sorgum yang spesifik lingkungan guna mengoptimalkan hasil sorgum persatuan luasnya. Beberapa kultivar dan varietas yang telah dikembangkan dengan sifat-sifat utama tersaji dalam Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Varietas Sorgum Yang Dikembangkan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran (Unpad) Dengan Sifat-sifat Penting

Varietas

Sifat-sifat Penting

Keterangan

Umur

Tinggi Tanaman

Warna biji

AZ Unpad1-1

Sedang

Pendek

Putih bening

Baik ditanam pada MH dan MK1

AZ Unpad2-1

Genjah

Sedang

Putih kapur

Baik ditanam pada MK2

AZ Unpad2-2

Sedang

Pendek

Putih kapur

Baik ditanam pada MK2

AZ Unpad-3

Genjah

Pendek

Putih kapur

Berbunga pada 40 hari, baik ditanam pada MK1 dan MK2

SS Unpad-1

Sedang

Tinggi

Coklat

Sorgum manis, baik di tanam pada MK 1 dan MK 2

Ket: AZ=sorgum biji; SS=sorgum manis

Tabel 2. Varietas Sorghum Unggul yang Telah Dilepas di Indonesia

Varietas

Tahun dilepas/ dianjurkan

Sifat-sifat Penting

Umur

Tinggi Tanaman

Warna biji

Katenyu

1958

Dalam

Tinggi

Putih bening

No.6c

1972

Dalam

Tinggi

Coklat

UPCA-S1

1972

Dalam

Sedang

Putih kapur

UPCA-S2

1972

Dalam

Tinggi

Coklat

KG4

1972

Sedang

Sedang

Putih kapur

Keris

1983

Genjah

Pendek

Putih kapur

Badik

1986

Genjah

Sedang

Putih kapur

Hegari genjah

1986

Genjah

Sedang

Putih kapur

Sangkur

1991

Sedang

Sedang

Coklat

Mandau

1991

Sedang

Sedang

Coklat

Numbu

2001

Dalam

-

Krem

Kawali

2001

Dalam

-

Krem

Sumber: Direktorat Serealia (2004)

2.2. Teknologi Budidaya Sorgum

2.2.1. Persiapan Tanam

Meskipun budidaya sorgum secara umum sangat mudah dan sorgum lebih mudah tumbuh dibanding tanaman lainnya, tetapi untuk mengoptimalkan hasil dan secara usaha tani bisa lebih menguntungkan, maka diperlukan teknologi budidaya/ Pengeloaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) yang tepat. Pada prinsipnya sorgum dapat tumbuh pada semua jenis tanah, bahkan di tanah yang kurang subur atau minim pasokan air, tanaman sorgum masih dapat tumbuh. Semua tanah yang sesuai untuk pertanaman jagung, juga dapat digunakan untuk pertanamanan sorgum. Hal yang perlu perhatian dalam persiapan adalah menentukan waktu tanam. Prinsipnya sorgum untuk diambil bijinya, sebaiknya waktu panen bukan pada musim penghujan. Hal penting lain yang harus diperhatikan dalam persiapan lahan tanam adalahi:

a)    Ketinggian tempat optimum untuk pertanaman sorgum kurang lebih 0 – 500 dpl. Semakin tinggi tempat pertanaman akan semakin memperlambat waktu berbunga dari tanaman sorgum. Temperatur 25oC – 27oC adalah suhu terbaik untuk perkecambahan biji sorgum, sedangkan untuk pertumbuhannya perlu suhu sekitar 23oC – 30oC;

b)    Hindari pemakaian tanah yang masam dengan kandungan Al, Fe maupun Mg yang tinggi, seperti tanah podzolik merah kuning, karena sorgum tidak tahan tanah masam. pH optimum tanah untuk pertumbuhannya sekitar 6.0 – 7.5.

c)    Memperhatikan tekstur tanah. Untuk lahan beririgasi dengan kelembaban tinggi biasanya tekstur tanahnya sedang sampai berat dan perlu dilakukan pencangkulan pada baris-baris yang akan disgunakan sebagai lubang tanam. Tetapi untuk tanah yang berstektur sedang sampai ringan, pengolahan lahan dapat dilakukan seminimum mungkin tanpa mengurangi hasil. Secara umum hasil akan meningkat sekitar 20% – 30% bila dilakukan pengolahan tanah sempurna untuk tanah yang berstektur sedang sampai berat.

2.2.2. Penanaman

a)    Pengairan. Sorgum tanaman yang tahan kering, sehingga pengairan bukan masalah yang utama dalam pertanaman sorgum. Kebutuhan akan air yang paling banyak hanya diperlukan pada awal-awal pertumbuhan (1 – 2 minggu setelah tanam). Adapun periode kritis tanaman sorgum adalah pada masa perkecambahan, berbunga dan waktu pengisian biji. Pada kondisi ketersediaan air sangat terbatas pada waktu tanam, guludan atau larikan-larikan untuk lubang tanam sebaiknya disiram terlebih dahulu sebelum tanam sampai cukup basah (20 – 50 cm). Kondisi kelembaban tanah di jaga terus sampai perkecambahan. Penyiraman dapat dilakukan selang 2 – 3 hari sekali bila sama sekali tidak turun hujan pada awal pertumbuhan. Air dalam tanah sampai kedalaman kurang lebih 2.5 cm, maksimum dapat memenuhi kebutuhan air selama 3 – 4 hari bagi tanaman sorgum pada periode pembentukan biji.

b)    Pengolahan tanah dan penanaman

  • Bisa dilakukan minimum tillage dengan mongolah tanah pada barisan tanam saja. Pengolahan tanah sebaiknya 1 – 2 minggu sebelum tanam.
  • Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan jarak tanam adalah: i) jenis/varietas sorgum yang akan ditanam; ii) ketersediaan air dan kesuburan lahan; iii) tujuan pemanfaatan dari tanaman sorgum; iv) pola tanam.

Dari dua hasil penelitian jarak tanam pada sorgum, peningkatan populasi tanaman per ha telah dapat meningkatkan hasil biji sorgum. Secara umum lubang tanam sorgum dibuat pada jarak 70 cm x 20 cm dengan dua tanaman per lubang tanam atau 70 cm x 10 cm dengan satu tanaman per lubang tanam. Hasil biji sorgum telah meningkat 1.5 kali pada jarak tanam 70cm x 10cm. Untuk lahan beririgasi baik jarak tanam dapat dibuat sekitar 50 cm x 30 cm. Untuk tanah yang kurang subur dan tidak beririgasi, sebaiknya digunakan jarak tanam yang lebih lebar (75 cm x 25 cm) atau populasi tanaman dikurangi per ha. Populasi optimum untuk jarak antar baris tanam 70 cm dengan 1 – 2 tanaman/ lubang sekitar 142.857 – 285.714 tanaman/ ha.

  • Kebutuhan biji per Ha  secara umum ditentukan oleh komponen: (i) luas lahan yang akan ditanami, (ii) jarak tanam, (iii) jumlah biji per lubang tanam, (iii) persen daya kecambah benih, (iV) persen benih yang tumbuh, dan (v) bobot benih per 1000 biji (gram). Untuk tanah dengan kondisi air kurang, sebaiknya ditanam lebih banyak biji per lubang tanamnya, untuk menghindari biji yang tidak tumbuh karena lingkungan yang tidak optimal. Umumnya perbedaan persentase perkecambahan di laboratorium dan lapangan biasanya berkisar sekitar 30% – 50% pada kondisi viabilitas benih sangat baik. Untuk jarak tanam 70cm x 20cm dengan ukuran biji sedang, membutuhkan biji sekitar  ± 5 – 7 kg/Ha.
  • Biji ditanam dengan cara ditugal dengan 3 – 4 biji per lubang tanamnya. Setelah tanaman berumur 3 minggu bisa dilakukan penjarangan dengan menyisakan 2 – 3  tanaman per lubang tanamnya.

c)    Pemupukan. Meskipun sorgum dapat tumbuh pada lahan kurang subur, namun tanaman sorgum sangat tanggap terhadap pemberian pupuk kandang dan pupuk nitrogen. Respon terbesar kedua adalah pada pemumupukan fosfor dan yang ketiga adalah pada pemupukan kalium. Dosis pemupukan tergantung dari tingkat kesuburan lahan, namun demikian secara umum dosis yang dapat dipakai untuk lahan irigasi adalah 100 – 180 kg Nitrogen, 45 – 70  kg P2O5 dan K2O. Pemerintah menganjurkan penggunaan 200 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl. Pupuk urea diberikan dua kali yaitu 1/3 pada waktu tanam bersamaan dengan SP-36 dan KCl, sisanya 2/3 pupuk Urea diberikan setelah tanaman berumur satu bulan. Pupuk diberikan dengan cara dibuat larikan sejauh ± 7-15 cm sebelah kanan dan kiri dari lubang tanam. Urea dan SP-36 dimasukkan dalam satu lubang, sedangkan KCl pada lubang yang lainnya. Penambahan pupuk kandang sebanyak 5 ton/ha telah meningkatkan hasil biji sorgum.

d)    Penyiangan dan Pembumbunan. Penyiangan hanya perlu dilakukan pada awal pertanaman saja dan setelah tanaman cukup besar, penyiangan bisa tidak dilakukan.

e)    Pengendalian Hama dan Penyakit. Dilakukan terutama pada hama dan penyakit penting pada sorgum. Hama penting yang kemungkinan dapat menyerang pada pertanaman sorgum dan pengendaliannya adalah :

  • Valanga sp. (belalang) yang menggerek daun,  dan hama Aphid yang menyerang daun bendera saat pembentukan malai. Adapun pengendalian hama-hama ini dilakukan dengan penyemprotan insektisida Curacron dengan konsentrasi 2 ml.L-1.
  • Hama lainnya adalah burung yang menyerang malai yang sudah terbentuk biji. Serangan hama ini berpengaruh besar terhadap pengurangan hasil tanaman sorgum. Pengendalian hama burung dilakukan dengan cara menutup barisan tanaman dengan kain saring yang dilekatkan pada bambu atau dengan cara tradisional membuat oran-orangan.

Penyakit penting pada sorgum dengan pengendaliannya adalah :

  • Bercak daun Cereospom yang disebabkan oleh jamur Cercospora sorghi dengan gejala berupa bercak-bercak pada daun-daun tua yang meluas ke atas kemudian memanjang terbatasi oleh tulangtulang;
  • Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur dengan gejala penyakit yaitu terdapat bercak-bercak jorong yang memanjang, membentuk bercak kering yang cukup besar, jika menyerang biji akan terlihat kering dan berwarna merah kehitam-hitaman.
  • Antraknos yang disebabkan oleh jamur C falcatum dengan gejala berupa bercak-bercak kecil berwarna kehitaman dengan bintik kuning pada tepi daun. Infeksi penyakit ini juga menjalar pada malai yang menyebabkan biji-biji sorghum menjadi busuk, berwarna hitam dan berkecambah sebelum waktunya.

2.3. Panen dan Pascapanen

2.3.1. Panen

Biji sorgum bisa dipanen bila telah keras dengan memotong malainya, biasanya ± 45 hari setelah bakal biji terbentuk. Biji mudah dirontokkan dari malai bila kandungan airnya telah mencapai ±25% – 30%. Curah hujan yang tinggi pada saat tanaman siap panen dapat menyebabkan biji berkecambah di lapangan.

Untuk budidaya ratoon, setelah malai dipanen, tanaman dipotong dengan meninggalkan satu buku (15cm – 20cm dari permukaan tanah). Dipilih 2 sampai 3 tunas baru yang keluar untuk terus ditumbuhkan. Tunas yang lainnya dibuang. Setelah tunas mencapai ukuran 20cm, tanah sekitar tunas digemburkan dan dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK sebanyak 200 kg/ha. Tanaman dari ratoon jika dipelihara dengan baik dapat menghasilkan jumlah biji seperti induknya. Ratoon bisa dilakukan sampai dua kali dan jika hasilnya sudah menurun sebaiknya tanaman dibongkar dan menanam kembali dari biji.

2.3.2. Pascapanen

a)  Pengeringan. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10% – 12%. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara berarti biji tersebut telah kering.

b)  Perontokan. Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas.  Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu, atau kotoran lainnya. Kadar air tidak boleh lebih dari 10% – 12% untuk mencegah pertumbuhan jamur.

3) Penyimpanan. Biji yang telah bersih dan kering dapat disimpan dalam kaleng yang kemudian ditutup rapat sehingga kedap udara. Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang), maka tinggi gudang harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah timbul. Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari bahan besi, karena sangat peka terhadap perubahan suhu. Permasalahan utama penyimpanan biji di gudang adalah serangan hama kutu (hama gudang).  Hama ini dapat dicegah dengan fumigasi.

III. Teknologi Pengolahan Hasil Sorgum

3.1. Penyosohan biji sorgum

Penyosohan biji sorgum dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu penyosohan secara tradisional, penyosohan dengan mesin penyosoh tipe abrasif serta penyosohan alkalis.

a)     Penyosohan dengan metode mekanis. Penyosohan biji sorgum varietas AZU1-1 (AZ Unpad) dengan mesin penyosoh beras tipe abrasive selama 2 menit memberikan hasil terbaik (rendemen 82.81%, biji utuh 98.04%, biji pecah 1.96%). Penyosohan selama 2 menit juga memberikan kualitas tepung yang baik dengan tingkat kecerahan (putih) yang menyerupai tepung terigu.

Penyosohan dengan metode alkalis. Penyosohan alkalis memberikan beberapa keuntungan antara lain menghasilkan rendemen lebih besar dibandingkan penyosohan secara tradisional khususnya untuk jenis sorgum dengan kandungan tanin tinggi yang kurang efektif disosoh secara tradisional maupun menggunakan mesin penyosoh.  Penyosohan  menggunakan  larutan NaOH 10 % selama 10 menit menghasilkan biji sorgum sosoh dengan efisiensi penyosohan (Deff) terbaik yaitu 68,67% b.k, kadar serat kasar 0,78 % b.k, serta rendemen sebesar 64,28 (% b.k). Biji sorgum sosoh yang dihasilkan berwarna kuning cerah serta kadar air sebesar 9,87 % b.k dan pH akhir biji sorgum sosoh 6,74.

3.2. Penepungan dengan cara dry mill

Penepungan dapat dilakukan dengan Hammer mill dengan sebelumnya diberi perlakuan pengeringan. Pengeringan dengan oven 120oC selama 10 atau 20 menit dan pengayakan dengan menggunakan ukuran saringan 40 mesh menghasilkan rendemen tertinggi. Untuk mendapatkan karakteristik tepung terbaik sebaiknya dikeringkan selama 20 menit dan menggunakan saringan 100 mesh.

3.3. Pengolahan tepung sorgum

3.3.1. Substitusi tepung terigu pada pembuatan roti

Dalam pembuatan roti, imbangan 80% tepung terigu dan 20% tepung sorgum dengan metode pembuatan roti straight process cara Lange dihasilkan roti tawar dengan karakteristik baik dan disukai. Nilai kesukaan terhadap roti tawar campuran tepung terigu dan tepung sorgum adalah untuk penampakan keseluruhan 3,7 (biasa sampai agak suka); warna crust 3,4 (biasa sampai agak suka); warna crumb 4,0 (agak suka); keseragaman pori 4,0 (agak suka); aroma 3,5 (biasa sampai agak suka); keempukan dengan ditekan 3,8 (biasa sampai agak suka); keempukan dengan digigit 4,0 (agak suka) dan rasa 3,7 (biasa sampai agak suka), pengembangan volume roti tawar sebesar 272,17 % dan kadar air bagian crust 23,52%, bagian crumb dekat crust 34,21%, serta bagian crumb 53,93%.

3.3.2. Imbangan tepung sorgum dengan tepung ketan dalam pembuatan Opak

Dalam pembuatan Opak sorgum, imbangan terbaik antara tepung sorgum dan tepung ketan diperoleh pada substitusi tepung sorgum 50%  (50:50) karena memiliki tingkat pengembangan paling tinggi dan menghasilkan nilai kesukaan sifat permukaan, citarasa dan kerenyahan paling baik. Pada imbangan tersebut, Opak yang disangan memiliki karakteristik inderawi (warna dan pengembangan) lebih baik dibandingkan dengan opak yang dipanggang.

Opak yang dihasilkan tidak memiliki pengembangan yang merata, sehingga tekstur permukaan opak matang tampak seolah-olah ada gelembung-gelembungnya.

3.3.3. Substitusi tepung terigu pada pembuatan Stik Bawang

Untuk pembuatan makanan ringan stik bawang, imbangan tepung sorgum dan tepung terigu sebesar 60:40 menghasilkan karakteristik adonan yang baik, dan merupakan imbangan yang paling disukai yang meliputi citarasa, kehalusan permukaan, aroma, kerenyahan, dan kenampakan keseluruhan. Rata-rata konsumen/ panelis dalam penelitian memperlihatkan tingkat kesukaan dari biasa sampai suka.

3.3.4. Imbangan tepung sorgum dan tepung tapioka dalam pembuatan Krupuk

Untuk pembuatan krupuk sorgum, imbangan terbaik antara tepung sorgum dan tepung tapioka adalah sebanyak 50:50. Hasil krupuk rata-rata disukai sampai sangat suka oleh para konsumen/ panelis. Penambahan imbangan tepung sorgum sampai 60% telah meningkatkan kerenyahan dan citarasa dari krupuk yang dihasilkan. Namun demikian penampakan krupuknya menjadi kurang menarik dan berwarna agak coklat. Hal ini bisa diatasi dengan penambahan pewarna makanan pada adonan krupuk.

56 responses to “Teknologi Bertanam Sorgum

  1. rachmat surya abadi

    Salam,
    Kira-kira saya bisa mendapatkan sorghum manis dimana ya pak? Terima kasih.

  2. Kami akan mengembangkan SS 2500 HA yang akan ambil niranya kemudian di evaporasi spy jadi syrup untuk bahan pemanis kecap dan atau diolah menjadi ethanol. Namun ada biji +/- 3 ton per hektar yang akan kami giling menjadi tepung,…..pertanyaan : adakah UNPAD punya data base perusahaan makanan yang butuh tepung tersebut ?

    Terima kasih.

    • Maaf kami ngak punya data base-nya, tapi coba bisa ditanyakan ke perusahaan tepung gandum. Harus jelas kualitas tepung sorgumya, putih atau tidak.

  3. dh,
    terima kasih SDG telah memberikan info yang sangat bermanfaat bagi kami di konsorsium pengembangan sorgum jawa timur.

    sukses selalu….

  4. salam, sorgum apa yg cocok utk peternakan kambing, kami butuh batang dan daun utk pakan. biji yg digiling utk diambil dedak dan tepungnya ssebagai bahan pakan kosentrat. niranya sebagai penggati molases. terima kasih

  5. salam, sorgum apa yg cocok utk peternakan kambing, kami butuh batang dan daun utk pakan. biji yg digiling utk diambil dedak dan tepungnya sebagai bahan pakan kosentrat. niranya sebagai pengganti molases. terima kasih sebelumnya

    • Bisa coba Sorgum manis. Kami sedang mencoba sorgum SSU-3 dan SSU-4 (sweet sorgum unpad 3 dan 4) di Tangerang, kerjasama dengan swasta. Beberapa cocok untuk dataran sedang. Lihat posting tentang interaksi sorgum manis dengan musim.

      • di mana kami bisa mendapatkan benih sorgum manis untuk di budidayakan di kelompok tani kami? bagamana teknisnya? terima kasih

      • Kami hanya punya stok benh dalam jumlah terbatas (untuk penelitian saja). Jika ada kebutuhan dalam jumlah banyak harus kami persiapkan dua musim sebelumnya.

  6. di mana kami bisa mendapatkan benih sorgum manis untuk di budidayakan di kelompok tani kami? bagamana teknisnya? .sebagai informasi kami berdomisili di pekanbaru riau. kami ingin mencoba sorgum pada lahan gambut kering dan perbukitan. atas kebijaksanaan dan perhatian bapak kami ucapkan terima kasih

    • Sebenarnya di masyarakat kita telah ada beberapa jenis sorgum manis dengan nama yang berbeda-beda. Untuk pakan ternak memang sorgum manis yang lebih cocok. Sayangnya sorgum secara umum tidak tahan lahan masam terutama karena Al. Kalau lahan kering masih bisa tahan meskipun hasilnya pasti berkurang. Sorgum manis sedang kami kembangkan, dan stock benih hanya untuk penelitian kecuali ada permintaan khusus.

  7. kemarin ada yg menjual benih sorgum manis putih dari philipina, bagaimana pendapat bapak meenai sorgum ini? terima kasih

    • Coba saja dulu dalam jumlah kecil, apakah cocok dengan tanah dan kondisi iklim di derah bapak. Silahkan baca postin terakhir saya mengenai adanya interaksi genotip sorgum manis dengan musim (baca lingkungan). Yang penting lagi apakah benih tersebut sudah lewat karantina? kuatir malah bawa penyakit baru untuk tanaman lain yang bisa merugikan Bapak. Thanks.

  8. salam
    bagamana pendapat bapak terhadap sorgum yang di kembangkan oleh bapak haji supardi (abah sorgum) dari kab. bandung?
    karena setelah saya browsing di internet hanya beliau yang bersedia memberikan benih sorgumnya dengan harga yang wajar utk ukuran kelompok tani kami. terima kasih

  9. aldi djatijanto

    Perlu Benih Sorghum Manis ( Sorghum Bicolor) , masuk ke website:agromaret

  10. Saya lagi butuh pasokan biji sorgum Kawali. Bagi yang punya pasokan silahkan hub saya di 085854731858. Diutamakan yang berada di wilayah Jatim. Terima kasih,

  11. aslm. alhamdulillah benih sorgum yg bapak berikan kepada saudara kami sony martin. telah berbunga. mudah mudahan kami bisa mengembangkan utk selanjutnya.atas nama kelompok tani ternak umban sari pekanbaru riau kami mengucapkan banyak terima kasih. jazakallah khairan katsiran

    • bagaimana caranya menurunkan kadar tanin pada tepung sorgum, dimana ada asosiasi atau kelompok masyarakat sorgum? apakah UNPAD bisa mengkordinir pengembangan sorgum di Indonesia

      • Tanin itu melekat pada kulit/ lapisan tipis pada biji sorgum. Cara menurunkannya dengan menyosohnya dengan baik. Pandangan umum sorgum biji yang coklat biasanya kandungan taninnya lebih tinggi dari pada sorgum biji putih. Sepengetahuan sya belum ada asosiasi masyarakat sorgum. Biarlah asosiasi itu tumbuh sendiri kalau memang dibutuhkan. Terima kasih atas usulannya.

  12. cari bibitnya dmn ya mas?dan harga jual brp?

  13. Saya sudah membudidayakan sorgum Kawali. Kendala utama adalah serangan burung. Katanya ada varietas yang tidak disukai burung, kalau ada mohon penjelasannya apakah varietas itu juga layak dibudidayakan?

    • Jenis yang disukai burung biasanya yang berbiji putih dan kalau dikonsumsi oleh manusia relatif enak. Burung biasanya tidak suka pada sorgum yang berbiji coklat dan jenis sorgum ini juga tidak ienak untuk dikonsumsi bijinya. Kalau tujuan pak Sudiro untuk dikonsumsi bijinya, tidak ada jalan untuk memproteksi bijinya dari serangan burung, tapi kalau tujuannya untuk diambil hijauannya, sorgum berbiji coklat bisa menjadi pilihan, karena kurang disukai burung.

  14. akhmad suprapto

    maaf pak. saya membutuhkan benih sorgum untuk penelitian.. bisa minta saran bagaimana saya bisa mendpatkan sorgum dari unpad

    • bisa lebih spesifik penelitian apa? Masalahnya sorgum banyak jenisnya. Saya hanya mempunyai stock benih dalam jumlah tidak terlalu banyak. Thanks

  15. Saya baru saja dapatkan bibit sorgum dari varietas Numbu dan Kawali dengan bapak Rahmat Alwi pada Balai Litbang Sereal di Maros.
    Nomer Hp Pak Rahmat; 08124207271

  16. Saya berencana menanam kmoditi sorgum u tesis konsentrasi kesuburan tanah..lebih cocok mana di Rancaekek atau di Cicalengka? dimana saya bs mendapatkan benih dan literatur yg lengkap..tentang penelitian2 sorgum di Indonesia.

    • Saya rasa sama saja tidak berbeda dari sisi iklim, yang penting tanaman sorgum bisa tumbuh pada tanah kurang subur, tapi tumbuhnya tidak optimal (kecil). Tergantung tujuan Suadara untuk meneliti aspek apanya. Coba cari literatur di internet atau bisa copy dari buku yang saya punya.Good luck

  17. saya sangat mendukung pengembanagan tanaman sorgum sebagai bahan penganeka ragaman pangan

  18. Saya pengusaha makanan yang menggunakan sorgum sebagai bahan baku utama. Awalnya saya disuplai dari Surabaya yang katanya ambil dari Bojonegoro. Kemudian entah karena apa mereka tidak mau mensuplai lagi pada saya. Terpaksa saya membudidayakan sorgum sendiri. Pada awalnya saya membudidayakan pertengahan 2010 lalu menggunakan varietas Kawali. Dari 1 ha lahan hanya 1/3 yang tumbuh karena saat itu hujan nyaris sepanjang tahun. Saat tanah dibajak tidak mau remah tapi berbongkah-bongkah sehingga banyak biji yang tidak mau tumbuh dengan baik. Saat panen cuaca kering sekali dan banyak serangan ulat. Ini susah diatasi dengan insektisida karena ulatnya sembunyi dalam malai. Seusai panen sorgum kembali diratoon dan penanaman berikutnya pun bermasalah. Serangan burung mengganas. Terpaksa malai ditutup dengan plastik. Ini memakan biaya tinggi karena membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak dan harga plastik juga mahal. Selain itu plastik tidak tahan panas matahari sehingga ketika terpapar matahari terus menerus dengan cepat bolong. Kalau udah bolong langsung para burung beraksi memakan biji sorgum di dalamnya. Penggunaan plastik juga menyebabkan malai jadi lembab sehingga mudah berkecambah.
    Penananam selanjutnya saya minta pekerja di lahan untuk menanam sorgum coklat dan sedikit sorgum putih tapi apa daya mereka membalik varietas. Lagi-lagi yang putih ada separuh dan sisanya coklat. Mendekati panen lagi-lagi burung beraksi dan untunglah saya cepat memanen meski masih banyak yang hijau. Kemudian sorgum kembali di ratoon dan kembali menjelang panen semua yang varietas Kawali dihabiskan burung. Kali ini saya telat karena serangan sudah dimulai saat masih masak susu. Tidak mungkin saya panen saat masih masak susu. Sebiji pun saya tidak membawa pulang varietas Kawali. Yang cokelat semula aman tapi begitu yang Kawali habis, yang cokelat akhirnya menjadi sasaran juga. Kerusakan mencapai separuh untuk yang cokelat. Terpaksa saat banyak malai masih hijau langsung saya babat habis total.
    Dari pengalaman itu saya berkesimpulan, secara teori memang sorgum is OK tapi saya pikir masih dibutuhkan waktu lama atau bahkan tidak mungkin sorgum akan menggantikan serealia lain semisal jagung atau padi. Budidayanya jauh lebih banyak kendala daripada jagung atau padi dan produktivitasnya juga sangat rendah. Pantas saja saya amati penanam sorgum kurang begitu berkembang. Dari beberapa orang yang pernah saya temui yang pernah membudidayakan sorgum semuanya berhenti karena menghadapi masalah yang sama. dari sini saya kapok tanam sorgum dan berencana mengganti bahan baku saya dengan yang lain yang lebih mudah didapat. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran buat yang lainnya.

  19. Saya sedang mencari sorgum dan cara pengolahannya untuk menjadi makanan. tolong info kontaknya, saya di Tanggerang. trims

  20. berapa lama daya simpan sorghum manis??saya mau penelitian tentang penyimpanan shorgum manis,trimakasih

    • Daya simpan apanya? Bijnya. Kalau biji sama saja dengan sorgum biji, pada penyimpangan biasa bisa tahan sampai 6 bulan kalau tidak dimakan kutu. Kalau ada kutu, biji bisa hancur hanya dalam beberapa minggu.

  21. salam.
    bagaiman cara mendapatkan benih sorgum varietas unpad1-1 ??

    • Untuk skala penelitian kemungkinan ada, tapi untuk dalam jumlah banyak harus pesan atau kerjasama dalam perbanyakannya.

  22. salam…
    saya mahasiswa pertanian USU pak, saya mau melaksanakan penelitian tentang “waktu penyiangan yang berbeda terhadap beberapa varietas sorgum “, kira-kira varietas apa yang cocok ya pak????
    terima kasih.

  23. pak..
    saya sudah kirim file nya ke email bapak..
    mohon arahannya pak…
    terima kasih..

  24. salam.
    pak, saya berencana menggunakan sorgum manis varietas numbu untuk penelitian..apakah perlakuan terhadap benih seperti skarifikasi sebelum tanam bisa mengurangi kandungan tanin pada sorgum?terima kasih

    • Pertama numbu sepertinya bukan sorgum manis. Kalau biji sorgum u konsumsi dan di sosoh terlebih dahulu itu akan mengurangi kandungan tanin di biji sorgum. Tetapi apabila disosoh kemudian ditanam itu tidk akan berpengaruh terhadap pengurangan kandungan tanin malah sy khawatir biji jadi tidk tumbuh. Ok sukses selalu. Kandungan tanin di kontrol secara genetik

  25. ohya kalo mau mesan benih sorgum ada nda ya

  26. Imam Uddin Firmansyah ,

    Terima kasih pak, saya bisa membaca tulisan bapak. Apabisa saya mengkopi tulisan bapak? Jika boeh menkopinya, bagaimana caranya?. Sorgum Varietas Numbu, dan Kawali dapat dipesan di Balai Penelitian Tanaman Serealia di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jika membutuhkan benih tersebut bisa hubungi no 0411 371 016 dan fax 0411 961 atau email : balitser@yahoo.com

  27. Pengetahuan saya tentang sorgum semakin bertambah dan keyakinan saya untuk menanam sorgum semakin kuat.Saya harapkan bisa mendapatkan info seputar pengolahan sorgum yang ditujukan untuk bahan pembuatan makanan.Terima kasih infonya…

    • Thanks kalau sudah bermanfaat. Saya akan coba ke bagian pengolahan hasil untuk menulis artikel yang lebih detail.

  28. mohon informasi tentang teknikpenyimpanan yang baik karena selama ini kaami dipusingkan dengan kutu ‘sitophilus’ bukan saja biji yg baru dipanen tapi juga biji yang sudah divacuum untuk disimpan dan tepung biji sogum. saya sangat heran mengapa tepung sorgum yang tersimpan rapat dalam kondisi vacuum juga lama-lama berkutu? bukan sitophilus tapi…
    mohon pencerahan pak, tks

    • Memang permasalahan utama dalam menyimpan adalah kutu. Kutu tersebut memasukkan telurnya dan berkembang biak dalam biji. Lubang ini sangat kecil dan bisa jelas dg menggunakan kaca pembesar. Jadi biar tadinya biji kelihatan bebas tapi kalau sudah ada yg terinveksi, maka lama kelamaan akan berkutu.
      Cara mengatasinya memang tidak mudah tapi cara ini bisa dicoba:
      1. Panen yg baik tidak pada waktu setelah turun hujan dan cepat dibersihkan dg kadar air yg rendah. Silahkan dijemur terus sampai benar2 kering dan disimpan di tempat yg kelembabannya rendah.
      2. Kalau biji tidak untuk benih (tdk ditanam lagi) bisa menggunakan kapur barus/ kamper tapi biasanya benih viabilitas cpt turun / mati. Cara ini agak efektif. Makalahnya nanti kalau di tepungkan apakah tepungnya berbahayanya atau tidak, perlu penelitian. Caranya dalam kantong cukup diberikan beberapa kamper utuh.
      3. Penyimpanan kedap udara dan ditempat yang benar-kering. Dengan catatan tidak ada kutu yang bersembunyi di dalam biji. Coba amati sepintas apakah ada biji yang berlubang apa tidak. Kl ditemukan satu biji yang berlubang sebaiknya kl mau disimpan sering di cek.
      4. Menggunakan seed treatment (insectiSida) yg diaplikasikan ke benih. Hati 2 karena bersifat racun. Saya pernah menerima benih dari luar negeri dengan menggunakan perlakuan seperti ini. Ini baik untuk biji yg akan digunakan sebagai benih bukan untuk konsumsi.
      Mungkin itu yang bisa saya bantu mungkin ada pembaca lain yang ingin menambahkan silahkan.
      Sukses selalu.

  29. bapak saya membutuhkan benih sorgum untuk penelitian. saya butuh 3 varietas, saya sudah mencari ke maros dan tempat tempat lain selalu terkendala dalam stok dan varietas. mohon infonya pak dimana kira kira saya bisa memesan benih sorghum pak.

  30. benih sorghum varietas apa saja pak.kalau jumlah kebutuhan hanya sekitar 1500 benih per varietas, ini untuk keperluan penelitian S1 pak. terimakasih sebelumnya

    • Selamat pagi bapak.bagaimana pak?saya benar benar kehabisan akal mencari benih sorghum pak.senang sekali jika bisa dibantu pak.terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s